Liganusantara.com, Jakarta – Kekalahan Dewa United dari Persik Kediri pada pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 menyisakan kekecewaan mendalam bagi sang pelatih, Jan Olde Riekerink. Arsitek asal Belanda tersebut menyoroti kondisi lapangan Stadion Brawijaya yang tergenang air, yang menurutnya sangat menghambat gaya permainan timnya.
Dalam laga yang berlangsung Sabtu (7/2/2026) tersebut, The Banten Warriors harus menyerah dengan skor tipis 1-2. Lapangan yang becek setelah diguyur hujan deras dianggap menjadi faktor utama hilangnya identitas permainan Dewa United yang biasanya dominan dalam penguasaan bola.
Dominasi yang Terhenti Genangan Air

Riekerink menjelaskan bahwa pada babak pertama, sebelum hujan mengacaukan kondisi lapangan, Ricky Kambuaya dan kolega masih mampu menerapkan skema permainan normal. Namun, mereka harus kecolongan dua gol lebih dulu lewat aksi Ernesto Gomez (4′) dan Jon Toral (32′).
Dewa United sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Vico Duarte pada menit ke-56. Sayangnya, upaya untuk menyamakan kedudukan terhambat setelah laga sempat terhenti 2×30 menit akibat drainase lapangan yang tidak mampu menampung debit air hujan.
“Bermain Seperti di Rawa”
Meski harus pulang tanpa poin, Riekerink tetap memberikan apresiasi atas kerja keras anak asuhnya. Ia menilai para pemain sudah mencoba beradaptasi dengan taktik darurat di tengah lapangan yang tidak ideal.
“Sulit menyalahkan pemain karena mereka sudah berjuang maksimal. Jika Anda menginjakkan kaki di lapangan ini, kondisinya mengerikan. Karena hujan, kami merasa seperti bermain di rawa. Kami terpaksa meninggalkan filosofi bola pendek dan beralih ke umpan-umpan panjang yang simpel,” keluh eks pelatih Galatasaray tersebut.
Ia menambahkan bahwa sejak sesi latihan resmi, ia sudah merasakan tekstur lapangan yang terlalu lembut. Hujan deras kemudian memperparah kondisi tersebut hingga membuat aliran bola menjadi tidak terprediksi.
Fokus Evaluasi
Riekerink menegaskan bahwa kekalahan ini bukan murni karena kesalahan taktis, melainkan faktor eksternal yang luar biasa. Meski demikian, ia tetap menyoroti efektivitas penyelesaian akhir timnya yang gagal memanfaatkan peluang emas di tengah kondisi lapangan yang sulit.










