Berita Liga 2LAINYALiga Indonesia 2025/2026NasionalOlahragaSepakbola

Kilas Balik Kerusuhan Persik vs PSIM di Liga 2 2019, Dampaknya Masih Terasa di BRI Super League 2025/2026

×

Kilas Balik Kerusuhan Persik vs PSIM di Liga 2 2019, Dampaknya Masih Terasa di BRI Super League 2025/2026

Sebarkan artikel ini
Kilas Balik Kerusuhan Persik vs PSIM di Liga 2 2019, Dampaknya Masih Terasa di BRI Super League 2025/2026
Kilas Balik Kerusuhan Persik vs PSIM di Liga 2 2019, Dampaknya Masih Terasa di BRI Super League 2025/2026

liganusantara.com – ,Jakarta Persik Kediri kembali menghadapi kendala dalam menggelar laga kandang di Stadion Brawijaya. Setelah sebelumnya tak bisa menjamu Madura United dan Persebaya Surabaya pada putaran pertama BRI Super League 2025/2026, kini Macan Putih kembali harus angkat kaki saat bersua PSIM Yogyakarta pada pekan ke-21, Jumat (13/2/2026).

Panitia pelaksana (Panpel) Persik pun kembali memindahkan venue pertandingan ke Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, demi memastikan laga tetap berjalan sesuai jadwal kompetisi.

Menariknya, hubungan suporter Persik dan PSIM sejatinya pernah terjalin cukup harmonis. Namun, relasi tersebut retak akibat insiden kerusuhan yang terjadi dalam laga Liga 2 musim 2019, tepatnya pada 2 September 2019. Saat itu Persik menang 2-0 atas PSIM, tetapi pertandingan tersebut ternoda bentrokan antarpendukung.

Kericuhan antara Persikmania dan Brajamusti menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka. Beberapa korban bahkan harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Selain korban jiwa, sejumlah kendaraan milik penonton rusak, dan pengunjung Taman Wisata Tirtoyoso—yang berada di dekat stadion—mengalami trauma akibat situasi mencekam tersebut.

Sebagian besar korban menderita luka di bagian kepala karena lemparan benda keras. Kedua kelompok suporter saling melempar batu, termasuk batu berukuran cukup besar.

Sekitar 15 orang, mayoritas dari kelompok Brajamusti, sempat ditangani di lorong masuk pemain Stadion Brawijaya. Sementara korban dengan kondisi lebih serius dirujuk ke RS Bhayangkara Kediri dan RSUD Gambiran II.

Dokter tim Persik saat itu, dr. Iman Taufik, menjelaskan bahwa sebagian besar korban mengalami luka akibat benda tumpul. Bahkan ada satu suporter perempuan yang harus mendapat bantuan oksigen karena mengalami sesak napas diduga akibat kepanikan saat kerusuhan berlangsung.

Kronologi Bentrokan

Menurut keterangan panitia, sejumlah korban yang berada di area Taman Wisata Tirtoyoso sempat belum tertangani secara maksimal karena keterbatasan tenaga medis. Lokasi tersebut sebelumnya memang disiapkan sebagai titik konsentrasi suporter PSIM karena memiliki area parkir luas.

Saat situasi memanas, para pendukung PSIM diarahkan menuju Tirtoyoso untuk dievakuasi. Namun jumlah tenaga medis di lapangan tidak sebanding dengan banyaknya korban.

Panpel Persik, Widodo Hunter, mengungkapkan bahwa awalnya pihaknya hanya menyediakan kuota 500 tiket untuk dua kelompok suporter PSIM, yakni Brajamusti dan The Maident. Karena hubungan baik, kuota tersebut ditambah hingga 1.000 tiket dengan kesepakatan menjaga ketertiban.

Namun pada hari pertandingan, jumlah suporter tamu disebut melebihi 2.000 orang. Widodo menyayangkan pelanggaran komitmen tersebut yang berujung pada kerusuhan.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum laga dimulai sempat terjadi gesekan internal antara Brajamusti dan The Maident di luar stadion. Panpel kemudian memisahkan posisi duduk kedua kelompok di tribun berbeda untuk meredam potensi konflik.

Brajamusti ditempatkan di sisi barat laut tribun utama, sedangkan The Maident di tribun VIP. Namun bentrokan justru terjadi antara kelompok Brajamusti dan Persikmania, khususnya elemen Curva Nord Cyber Extreme di tribun utara.

Ketegangan yang sudah muncul sebelum kick-off akhirnya terbawa hingga ke dalam stadion dan memicu kericuhan lebih besar.

PT LIB Lakukan Investigasi

Pasca insiden tersebut, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi langsung menurunkan tim investigasi. Dua perwakilan, Hanif Marjuni dari Divisi Media & PR dan Kharisma Putra dari Divisi Brand Management, diterjunkan untuk mengumpulkan data sebagai bahan pertimbangan Komdis PSSI.

Tim investigasi mendatangi sejumlah lokasi, termasuk Stadion Brawijaya, Taman Tirtoyoso, mess pemain Persik, hingga Polres Kediri Kota.

Menurut Hanif, seluruh data yang dikumpulkan—baik berupa dokumentasi maupun keterangan saksi—akan diserahkan kepada Komdis PSSI guna memastikan keputusan sanksi bersifat objektif.

Dari hasil penelusuran awal, dampak kerusuhan dinilai cukup luas. Selain korban luka, kerusakan material juga signifikan. Kepolisian mencatat sekitar 200 sepeda motor mengalami kerusakan. Fasilitas umum di sekitar lokasi pun terdampak.

Tak hanya itu, pengunjung Taman Tirtoyoso—termasuk keluarga yang sedang berenang—ikut merasakan trauma. Sebagian warga bahkan sempat diamankan di musala setempat demi keselamatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *