Liganusantara.com, Jakarta – Timnas Indonesia resmi memasuki era baru di bawah arahan John Herdman. Pelatih asal Inggris tersebut ditunjuk PSSI sebagai nakhoda anyar skuad Garuda dengan kontrak berdurasi dua tahun, disertai opsi perpanjangan.
Federasi juga telah menyiapkan agenda pengenalan resmi Herdman kepada publik. Eks pelatih Timnas Kanada itu dijadwalkan diperkenalkan pada 12 Januari 2026.
Tugas besar langsung menanti pelatih berusia 50 tahun tersebut. Rekam jejak Herdman yang sukses mengangkat prestasi Kanada membuat publik berharap pengalaman itu bisa ditransfer ke Timnas Indonesia. Namun, muncul pertanyaan penting: seberapa cepat metode kepelatihan dan pendekatannya dapat beradaptasi dengan karakter pemain Garuda?
Pendekatan Taktik yang Adaptif

Salah satu kekuatan utama John Herdman terletak pada fleksibilitas taktik. Ia dikenal tidak terpaku pada satu skema permainan sepanjang pertandingan.
Formasi dasar 3-4-3 kerap menjadi pilihan awalnya, tetapi susunan tersebut bukan harga mati. Herdman terbiasa melakukan penyesuaian berdasarkan situasi pertandingan dan cara bermain lawan.
Dalam praktiknya, formasi bisa bergeser ke 4-4-2 atau 4-2-3-1 untuk menambah keseimbangan, khususnya di lini tengah. Pola semacam ini bukan hal asing bagi Timnas Indonesia, yang sebelumnya juga kerap mengalami perubahan skema sejak era Shin Tae-yong hingga Patrick Kluivert. Pemain seperti Marselino Ferdinan sudah cukup akrab dengan dinamika perubahan formasi di tengah laga.
Build-up dari Belakang dan Tekanan Tinggi
Dari sisi gaya bermain, tim asuhan Herdman identik dengan penguasaan bola yang dimulai dari lini belakang. Kiper dilibatkan dalam proses build-up, sementara bek bertugas mengalirkan bola sebelum masuk ke area tengah.
Selain itu, pressing agresif menjadi ciri khas lainnya. Para pemain diarahkan untuk menekan lawan sejak di wilayah pertahanan mereka sendiri. Garis pertahanan tinggi diterapkan agar jarak antarlini tetap rapat.
Pendekatan ini menuntut keterlibatan seluruh pemain, termasuk penyerang, dalam merebut bola. Pola permainan seperti ini sebelumnya juga sempat menjadi identitas Timnas Indonesia di bawah Shin Tae-yong dan diteruskan pada masa Kluivert.
Dengan dasar yang sudah terbentuk, kehadiran Herdman diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainan sabar dari belakang sekaligus intensitas tekanan di lapangan.
Mengandalkan Transisi Cepat

Saat kehilangan bola, tim Herdman dikenal bereaksi cepat untuk merebut kembali penguasaan. Transisi dari bertahan ke menyerang dilakukan dengan tempo tinggi.
Serangan balik menjadi senjata penting, terutama dengan memaksimalkan kecepatan pemain sayap untuk menembus pertahanan lawan. Skema ini terbukti efektif ketika ia menanganai Kanada dan diprediksi akan kembali menjadi bagian dari identitas Timnas Indonesia.
Kemampuan transisi cepat sebenarnya sudah terasah di skuad Garuda sejak era sebelumnya. Timnas Indonesia bahkan mampu merepotkan tim-tim kuat seperti Irak, Arab Saudi, hingga Australia. Dengan sentuhan Herdman, pola transisi tersebut diharapkan semakin tajam dan efisien.
Dinilai Cocok untuk Timnas Indonesia
Pengamat sepak bola nasional, Binder Singh, menilai John Herdman sebagai pelatih yang memiliki fleksibilitas tinggi dalam hal taktik dan formasi. Meski kerap menggunakan skema tiga bek, filosofi menyerang tetap menjadi benang merah dalam gaya melatihnya.
Menurut Binder, pengalaman Herdman sangat relevan dengan komposisi Timnas Indonesia saat ini, yang telah ditempa oleh dua pendekatan berbeda: kedisiplinan dan struktur ala Shin Tae-yong, serta sentuhan total football dari Patrick Kluivert.
Kombinasi tersebut diyakini menjadi modal berharga bagi Herdman untuk meramu tim yang lebih matang dan dinamis.
“Bukan hanya formasinya yang bisa berubah, tapi juga pendekatan bermainnya. Meski sering memakai tiga bek, dari riset saya saat dia melatih Kanada, timnya selalu punya kecenderungan menyerang,” ujar Binder.
Ia menegaskan bahwa gaya menyerang ala Herdman bukanlah permainan terbuka tanpa perhitungan. Fokus utamanya tetap pada sirkulasi bola cepat dan pemanfaatan momen transisi.
“Menyerang dengan pertukaran passing yang cepat dan membaca momentum. Karena itu dia selalu membutuhkan kombinasi pemain berpengalaman dan pemain muda yang mengandalkan kecepatan,” tutup Binder Singh.












