Berita viral Sepak bolaBOLATAIMENTBRI SUPER LEGUELiga Indonesia 2025/2026NEWSPersib Bandung,Prediksi dan AnalisisTimnas IndonesiaTransfer pemain

Peringatan Raja Isa: Pemain Muda Diaspora Terancam “Zona Nyaman” di BRI Super League

×

Peringatan Raja Isa: Pemain Muda Diaspora Terancam “Zona Nyaman” di BRI Super League

Sebarkan artikel ini
Peringatan Raja Isa: Pemain Muda Diaspora Terancam "Zona Nyaman" di BRI Super League
Peringatan Raja Isa: Pemain Muda Diaspora Terancam "Zona Nyaman" di BRI Super League

Liganusantara.com, Jakarta – Gelombang kedatangan pemain naturalisasi dan diaspora Timnas Indonesia ke kompetisi BRI Super League 2025/2026 menuai sorotan tajam. Raja Isa, pelatih senior sekaligus pengamat sepak bola asal Malaysia, memberikan pandangannya terkait fenomena para pemain muda “Heritage” yang memilih berkarier di tanah air.

Menurut eks arsitek Persipura Jayapura ini, kepindahan tersebut bisa menjadi pedang bermata dua: keuntungan finansial yang menjanjikan, namun berisiko menghambat perkembangan karier mereka di level internasional.

Fakta Menit Bermain yang Mengkhawatirkan

Kekhawatiran Raja Isa bukan tanpa alasan. Berkaca pada statistik putaran pertama, nama-nama besar seperti Rafael Struick di Dewa United dan Jens Raven di Bali United nyatanya kesulitan menembus skuat utama secara reguler.

  • Rafael Struick: Hanya mencatatkan 325 menit dari 10 laga di liga domestik, dengan tambahan satu gol di kancah Asia (AFC Challenge League).
  • Jens Raven: Baru merumput selama 195 menit dari 14 pertandingan, meski sempat menyumbang satu gol dan satu assist.

Padahal, saat pertama kali mendarat, kedua pemain ini digadang-gadang akan menjadi tumpuan klub. Kondisi ini menjadi peringatan bagi rekrutan baru seperti Mauro Zijlstra, Dion Markx, hingga Ivar Jenner agar tidak mengalami nasib serupa.

Daya Tarik Industri vs Tantangan Teknis

Di satu sisi, Raja Isa mengakui bahwa dari perspektif bisnis, kepulangan para pemain diaspora adalah langkah cerdas. Popularitas mereka di Timnas Indonesia merupakan magnet kuat bagi sponsor dan penonton.

“Ini adalah hal lumrah dalam industri sepak bola modern. Klub memanfaatkan nama besar mereka untuk meningkatkan nilai jual kompetisi dan menarik animo publik,” ungkap Raja Isa.

Namun, dari sisi teknis, ia menegaskan bahwa status “pemain Timnas” tidak menjamin posisi inti. Apalagi klub-klub besar seperti Persija Jakarta dan Pe

Terjebak di Zona Nyaman?

Raja Isa menyoroti kemungkinan para pemain ini terjebak dalam kondisi yang ia sebut sebagai “Zona Nyaman”. Fasilitas yang baik, dukungan suporter yang masif, dan nilai kontrak yang mungkin lebih tinggi dibandingkan di Eropa bisa membuat motivasi pemain tumpul.

“Mereka mungkin merasa nyaman karena kesempatan bermain ada lewat regulasi U-22, dan secara finansial kontraknya mungkin lebih menggiurkan. Itu manusiawi, tapi mereka harus siap bekerja keras karena pelatih di Indonesia tetap objektif. Tidak ada perbedaan antara pemain lokal atau naturalisasi; yang terbaik yang akan turun,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa jika para pemain diaspora ini tidak sanggup bersaing dengan pemain muda lokal, mereka harus siap menerima kenyataan hanya menjadi penghangat bangku cadangan di negeri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *