Liganusantara.com, Jakarta – Timnas Indonesia memulai langkah di FIFA Series 2026 dengan kemenangan meyakinkan 4-0 atas Saint Kitts and Nevis. Hasil ini menjadi modal penting sebelum menghadapi Bulgaria di final.
Meski tim tampil dominan, belum semua pemain mendapat kesempatan bermain pada laga sebelumnya. Hal ini membuka peluang bagi pelatih untuk melakukan evaluasi dan menyiapkan opsi tambahan. Salah satu pemain yang belum diturunkan adalah Nathan Tjoe-A-On, yang dianggap bisa menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan tim.
Peran Nathan Tjoe-A-On di Lini Tengah

Pelatih John Herdman belum menurunkan Nathan pada pertandingan pembuka. Pengamat sepak bola Toni Ho menilai Nathan layak mendapat kesempatan tampil melawan Bulgaria.
“Nathan Tjoe-A-On belum dimainkan. Jika Herdman ingin mengevaluasi kemampuan semua pemain, Nathan seharusnya diberi menit bermain. Timnas Indonesia membutuhkan sosok visioner dan tangguh seperti Nathan untuk mengimbangi lini tengah Bulgaria,” ujar Toni Ho.
Nathan dinilai cocok untuk berduet dengan Joey Pelupessy, yang juga minim menit bermain. Kombinasi keduanya bisa memperkuat stabilitas permainan, sekaligus menjaga ritme antar-lini, dari pertahanan menuju serangan.
Solusi Bola Mati dan Variasi Serangan

Selain mengatur ritme permainan, Nathan juga memiliki kemampuan pada skema bola mati. Pada laga sebelumnya, eksekusi set pieces Timnas Indonesia belum optimal.
“Doni Tri mampu mengeksekusi tendangan pojok, tapi untuk skema bola mati, Timnas Indonesia butuh sosok seperti Nathan. Ia bisa jadi solusi menghadapi Bulgaria,” tambah Toni Ho.
Kehadiran Nathan juga memberi opsi tambahan dalam pola serangan. Ia dapat menjadi penghubung ketika Ole Romeny mendapat tekanan dari lawan. Dengan demikian, Ole bisa lebih fokus di lini depan, sementara Nathan membantu menjaga alur permainan di tengah.
“Melawan Bulgaria, Timnas tidak bisa hanya mengandalkan Ole Romeny. Jika Nathan dimainkan, Ole bisa lebih leluasa sebagai striker, meski sesekali tetap turun ke lini tengah,” jelasnya.
Pengalaman Nathan juga dianggap lebih matang dibandingkan Ivar Jenner. Faktor ini menjadi nilai tambah bagi Timnas Indonesia dalam menghadapi tim Eropa Timur yang kuat.












