BOLATAIMENTGaya HidupInternasionalNasionalNEWSOlahragaSepakbolaTimnas IndonesiaTRENDING

Menjelang Era Kelme: Napak Tilas Evolusi Zirah Skuad Garuda dari Masa ke Masa

×

Menjelang Era Kelme: Napak Tilas Evolusi Zirah Skuad Garuda dari Masa ke Masa

Sebarkan artikel ini
Menjelang Era Kelme: Napak Tilas Evolusi Zirah Skuad Garuda dari Masa ke Masa
Menjelang Era Kelme: Napak Tilas Evolusi Zirah Skuad Garuda dari Masa ke Masa

Liganusantara.com, Jakarta – Momen yang dinantikan pecinta sepak bola tanah air segera tiba. Sore ini, Kamis (12/3/2026), Kelme secara resmi akan memperkenalkan jersey terbaru Timnas Indonesia di Plaza Utara Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Peluncuran ini akan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, mulai dari petinggi Kelme Global, Ketua Umum PSSI Erick Thohir, hingga sang duta merek, Shayne Pattynama.

Sebelum kita melihat teknologi terbaru dari jenama asal Spanyol tersebut, mari kita menengok kembali perjalanan panjang seragam “Merah Putih” yang penuh dengan cerita unik dan mengharukan.

Era 1960-1990: Masa “Replika” dan Kreativitas Lokal

Jauh sebelum dilirik raksasa olahraga dunia, PSSI harus memutar otak untuk menyediakan seragam bagi pemainnya. Pada medio 1960-an hingga 1990-an, Timnas Indonesia kerap menggunakan merk besar seperti Adidas, Nike, atau Diadora, namun tanpa ikatan kontrak resmi.

Nugraha Besoes, mantan Sekjen PSSI, pernah berkisah bahwa saat itu federasi hanyalah “pembeli” biasa di distributor. Karena belum dianggap sebagai mitra bisnis yang menguntungkan, PSSI sering memesan versi replika dari garmen lokal milik pengurus, seperti Bambang Sucipto. Muncul jugaan populer “Adidas Made in Bangcip” di kalangan pemain saat itu.

“Bahannya tebal dan berat, bikin cepat gerah. Tapi saat itu kami tetap bangga memakainya karena nilai sejarahnya yang tak ternilai,” kenang legenda striker Indonesia, Bambang Nurdiansyah.

Kejutan Brand Lokal di Piala Asia 2004

Memasuki awal milenium, kejutan terjadi di Piala Asia 2004. Asisten Manajer Timnas saat itu, Muhammad Ghazali, melakukan terobosan dengan memasok jersey melalui brand miliknya, Ghazali Sports. Meski sempat mendapat kritik tajam dari segi desain, para pemain seperti Ponaryo Astaman merasa nyaman dengan bahan yang lebih ringan dibandingkan kostum klub kala itu.

Dominasi Raksasa Global: Era Adidas dan Nike

Peta bisnis apparel Timnas berubah total di Piala AFF 2004. Untuk pertama kalinya, Indonesia menjalin kontrak profesional dengan Adidas. Kerjasama ini meledak di pasaran; jersey orisinal seharga Rp500 ribu laku keras, membuktikan potensi ekonomi sepak bola nasional yang luar biasa.

Melihat kesuksesan kompetitornya, Nike mengambil alih posisi tersebut sejak 2007 hingga 2019. Kerjasama ini tercatat sebagai salah satu yang terlama, dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp10 miliar per tahun. Nike tetap setia mendukung Garuda meski sepak bola Indonesia sempat dihantam berbagai konflik internal.

Kebangkitan Brand Lokal: Mills hingga Erspo

Setelah dominasi merk luar, PSSI mulai kembali mempercayai produk dalam negeri. Pada 2020, Mills (PT Mitra Kreasi Garmen) terpilih menjadi penyedia segala kebutuhan sandang Skuad Garuda di semua level usia. Kerjasama ini kemudian dilanjutkan oleh Erspo sejak 2022, yang membawa nuansa baru dalam desain seragam kebesaran Indonesia.

Kini, tongkat estafet beralih ke Kelme. Dengan bocoran pola kerah yang elegan, publik berharap zirah baru ini tidak hanya unggul dari segi estetika, tapi juga membawa keberuntungan bagi prestasi Indonesia di kancah internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *