Liganusantara.com, Jakarta – Pelatih asal Bulgaria, Aleksandar Dimitrov, kembali ke Jakarta dalam rangka FIFA Series 2026 dan disambut dengan momen nostalgia terkait pengalamannya di sepak bola Indonesia. Dimitrov mengamati perubahan signifikan dalam komposisi dan manajemen Timnas Indonesia saat ini dibandingkan masa lalu.
Dalam konferensi pers di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Dimitrov terlihat hangat berinteraksi dengan media. Ia bahkan menyinggung masa-masanya membela Persija Jakarta pada awal 2000-an. Sebelumnya, ia juga sempat memperkuat Persegres Gresik sebelum memulai karier kepelatihan.
Sebagai pelatih, Dimitrov pernah menjadi asisten di Persipura Jayapura dan Timnas Indonesia pada 2007. Ia mengaku memiliki ikatan emosional kuat dengan sepak bola Tanah Air. “Periode itu sangat berkesan bagi saya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Karier kepelatihan saya bermula dari sini,” ujarnya.
Ia juga mengenang stadion-stadion legendaris seperti Stadion Menteng dan Stadion Lebak Bulus, yang kini telah mengalami perubahan fungsi. Menurut Dimitrov, tempat-tempat tersebut menyimpan banyak kisah penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Dimitrov menyoroti transformasi Timnas Indonesia saat ini, terutama kehadiran sejumlah pemain naturalisasi. “Perbedaan terbesar yang saya lihat adalah banyaknya pemain naturalisasi dalam skuad saat ini. Dulu kami mengandalkan pemain lokal dari liga domestik, dan saat itu Indonesia memiliki salah satu tim terbaiknya,” jelasnya.
Selain itu, ia mencatat perkembangan manajemen tim yang lebih profesional. Jumlah staf kepelatihan kini jauh lebih banyak dibandingkan masa sebelumnya, yang menurutnya menunjukkan arah positif dalam pembinaan sepak bola nasional.
Dengan kombinasi pemain lokal, diaspora, dan dukungan tim pelatih yang lebih modern, Timnas Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang. Dimitrov menekankan bahwa pembangunan tim nasional tetap membutuhkan waktu, konsistensi, dan strategi yang matang.
Kehadirannya di FIFA Series 2026 tidak hanya untuk misi profesional bersama Bulgaria, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Dimitrov untuk merenungkan perjalanan panjang dan transformasi sepak bola Indonesia dari masa lalu hingga saat ini.












