Liganusantara.com, Jakarta – Persija Jakarta menghadapi persoalan serius di BRI Super League 2025/2026, bukan dari segi kualitas permainan, melainkan masalah kedisiplinan pemain. Hingga pekan ke-26, tim berjuluk Macan Kemayoran tercatat sebagai salah satu klub dengan jumlah kartu merah terbanyak di kompetisi.
Total delapan kartu merah sudah diterima Persija sepanjang musim ini. Jumlah tersebut hanya berada di bawah Arema FC dalam daftar tim dengan catatan kartu merah tertinggi. Kondisi ini menjadi ironi karena Persija masih berusaha menjaga peluang dalam perebutan gelar juara.
Sering kehilangan pemain akibat kartu merah membuat keseimbangan tim terganggu. Situasi tersebut kerap memengaruhi jalannya pertandingan dan mengubah momentum yang sebelumnya menguntungkan.
Beberapa pemain penting tercatat pernah menerima kartu merah. Jordi Amat menjadi penyumbang terbanyak dengan dua kartu merah. Selain itu, Bruno Tubarao, Fabio Calonego, Rio Fahmi, Allano Lima, Aditya Warman, serta Figo Denis juga masuk dalam daftar.
Kejadian terbaru terjadi saat Persija menghadapi Bhayangkara FC. Jordi Amat harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima dua kartu kuning. Saat itu skor masih imbang, namun setelah bermain dengan 10 pemain, Persija akhirnya kalah 2-3.
Tidak hanya kartu merah, jumlah kartu kuning Persija juga cukup tinggi. Allano Lima tercatat sebagai pemain dengan akumulasi kartu kuning terbanyak, diikuti beberapa rekan setimnya. Hal ini memperlihatkan pola permainan keras yang kerap berujung pelanggaran.
Manajemen klub sebenarnya sudah memberikan perhatian terhadap masalah ini. Namun, hingga kini perbaikan signifikan belum terlihat. Kondisi tersebut berpotensi menghambat langkah Persija dalam perburuan gelar.
Saat ini Persija berada di posisi ketiga klasemen dan tertinggal dari dua tim teratas. Jika masalah disiplin tidak segera dibenahi, peluang mereka untuk bersaing hingga akhir musim bisa semakin berat.












