liganusantara.com – ,Jakarta Gunawan Dwi Cahyo memiliki banyak cerita berkesan di dunia sepak bola, salah satunya terkait sepatu bola pertamanya yang penuh kenangan.
Mungkin masih ingat Gunawan Dwi Cahyo? Pemain kelahiran Jepara 36 tahun lalu ini pernah memperkuat beberapa klub besar dan menjadi andalan timnas Indonesia, baik U-23 maupun senior. Dikenal sebagai bek tangguh, jebolan Diklat Salatiga ini meninggalkan jejak kuat di lapangan hijau.
Setelah cukup lama tidak terdengar kabarnya, Gunawan Dwi Cahyo membagikan kisahnya melalui kanal YouTube Dens.TV. Ia mengaku pertama kali jatuh cinta pada sepak bola karena terinspirasi idolanya, Ardi Warsidi, legenda Persija yang juga berasal dari Jepara.
“Awal kenal sepak bola karena lingkungan. Waktu itu ramai dengan Warsidi, pemain tim nasional yang membawa Persija juara 2001. Tetangga-tetangga saya semua ikut latihan, akhirnya saya juga ikut ke lapangan,” kenangnya.
Sepatu Bola Pertama yang Tak Mudah

Masalah muncul ketika Gunawan kecil harus menghadapi keterbatasan ekonomi. Ia belum bisa membeli sepatu sendiri karena kondisi keluarga. Saat itu, ia masih kelas 3 SD. Untungnya, pamannya bersedia meminjamkan sepatu untuknya.
“Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Karena orang tua belum mampu, pakde meminjamkan sepatu untuk saya. Dari situ mulai semangat latihan. Meskipun sepatu itu sering rusak dan harus ditambal, saya tetap terus berlatih,” cerita Gunawan.
Semangatnya untuk bermain sepak bola tak pernah surut. Setiap hari ia berlatih, meski sepatu pemberian pamannya sudah berkali-kali ditambal karena robek.
“Sepatu Eagle itu sepatu pertama saya. Sudah ditambal beberapa kali. Baru bisa beli sepatu sendiri waktu masuk Porda, sekitar kelas 5 atau 6 SD. Bukan sepatu paling bagus, tapi yang penting punya sepatu sendiri,” tuturnya sambil tersenyum.
Main Sepak Bola Tanpa Sepatu

Karena kondisi sepatu yang semakin buruk, ayahnya sempat memotong sepatu tersebut karena Gunawan nekat bermain tanpa alas kaki. Beruntung, ibunya membelikannya sepatu baru.
“Dulu sampai main bola dari sore sampai magrib. Kadang main tanpa sepatu di kampung, akhirnya bapak marah karena kaki saya sering luka,” ungkap Gunawan menirukan ucapan ayahnya.
Akhirnya, ibunya mencoba menyelamatkan sepatu pemberian pamannya dan tetap membelikannya sepatu baru. Gunawan memahami kemarahan ayahnya, yang ingin melindungi kaki dan sekolahnya agar tidak terganggu karena cedera.
“Awalnya yang mendukung saya bermain sepak bola adalah ibu dan pakde. Bapak belum terlalu mendukung, tapi setelah saya ikut seleksi Persiku Junior dan mulai mendapat gaji, akhirnya orang tua termasuk bapak senang dan mendukung,” jelasnya.
Perjalanan kariernya berlanjut saat SMA, ketika ia masuk Diklat Salatiga. Biaya sekolah ditanggung pemerintah dan ia juga menerima uang saku bulanan, sehingga dari sepak bola, ia mulai mandiri dan menghasilkan.
“Dari sepak bola, saya bisa menghasilkan dan membahagiakan keluarga. Itu yang membuat semua perjuangan sepatu pertama dan latihan keras itu terasa sangat berharga,” tutup Gunawan Dwi Cahyo.









