LigaNusantara.com – Agenda pertandingan Timnas U-23 Indonesia dipastikan semakin terbatas setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) resmi menghapus penyelenggaraan Piala Asia U-23 pada tahun yang tidak bertepatan dengan Olimpiade.
Keputusan tersebut diambil AFC sebagai bagian dari evaluasi besar terhadap format turnamen usia muda. Selama ini, Piala Asia U-23 menjadi panggung penting bagi talenta muda Asia untuk merasakan atmosfer kompetisi elite di level kontinental.
Dalam beberapa edisi terakhir, negara-negara Asia Tenggara kerap mencuri perhatian. Vietnam U-23 misalnya, mampu menembus semifinal dua kali dalam satu dekade, tepatnya pada edisi 2018 dan 2026. Sementara itu, Timnas U-23 Indonesia juga mencatat sejarah dengan melaju hingga empat besar pada Piala Asia U-23 2024 dan finis di posisi keempat.
Namun ke depan, frekuensi turnamen ini akan berubah drastis. AFC memutuskan Piala Asia U-23 yang sebelumnya digelar dua tahunan, kini hanya akan berlangsung setiap empat tahun. Turnamen tersebut hanya akan diadakan pada tahun Olimpiade, sementara edisi di luar tahun tersebut resmi dihapuskan.
Sebagai gambaran, keberhasilan Indonesia mencapai semifinal pada Piala Asia U-23 2025 membuka peluang tampil di babak play-off Olimpiade 2024. Situasi berbeda dialami Vietnam pada 2018, ketika mereka menjadi finalis namun tidak mendapatkan tiket Olimpiade karena ajang tersebut tidak digelar pada tahun Olimpiade.
Dalam pernyataan resminya pada 2024, AFC menyebut keputusan ini diambil demi peningkatan kualitas penyelenggaraan.
“Komite Kompetisi AFC menilai pentingnya meningkatkan standar organisasi Piala Asia U-23, khususnya pada edisi non-Olimpiade,” tulis AFC.
“Komite sepakat untuk meniadakan edisi non-Olimpiade mulai 2030, dengan format empat tahunan yang dimulai pada 2028.”
Dengan kebijakan tersebut, Piala Asia U-23 selanjutnya akan berlangsung pada 2028, 2032, dan seterusnya. Turnamen ini juga otomatis berfungsi sebagai ajang kualifikasi Olimpiade Musim Panas.
Dampaknya cukup signifikan, terutama bagi negara-negara berkembang di Asia. Kesempatan untuk menguji kemampuan melawan tim-tim kuat menjadi semakin terbatas. Bagi Timnas U-23 Indonesia, pilihan kompetisi dua tahunan kini hanya tersisa SEA Games dan Piala AFF U-23.
Artinya, Garuda Muda harus menunggu empat tahun sekali untuk tampil di level Asia melalui Piala Asia U-23, atau bahkan level dunia lewat Olimpiade.
Kebijakan ini berbanding terbalik dengan kategori usia di bawahnya. Di level U-17, AFC justru menyesuaikan kalender FIFA yang kini menggelar Piala Dunia U-17 setiap tahun, sehingga Piala Asia U-17 juga berlangsung secara tahunan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah AFC akan menghadirkan turnamen baru seperti Nations League U-23 guna mengisi kekosongan kalender kompetisi?












