Liganusantara.com, Jakarta – Peralihan peran dari pemain ke pelatih kerap menjadi jalan lanjutan bagi mantan pesepak bola profesional. Hal tersebut juga dijalani oleh Maman Abdurrahman. Setelah menutup kariernya sebagai pemain, mantan bek Timnas Indonesia itu kini aktif di dunia kepelatihan bersama Persija Development.
Nama besar yang pernah membela Persija Jakarta dan Persib Bandung tidak membuat Maman menjauh dari sepak bola. Justru sebaliknya, ia dipercaya ikut terlibat dalam pembinaan pemain muda, yang menjadi fondasi masa depan klub Macan Kemayoran.
Menangani pesepak bola usia muda bukan perkara mudah. Selain menyusun program latihan dan strategi, Maman juga dituntut mampu membimbing para pemain dari sisi mental dan karakter, layaknya peran orang tua di luar lapangan.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Dens TV, mantan Pemain Terbaik Liga Indonesia 2006 saat membela PSIS Semarang itu mengungkapkan aktivitas terkininya di Persija Development.
“Setelah pensiun langsung bergabung dengan Persija Development. Kemarin juga sempat dipercaya menangani Suratin U-17 bersama coach Julian Kusuma, lalu sekarang mendampingi coach Ferdiansyah di EPA U-18,” ungkap Maman.
Tantangan Membina Pemain Muda
Selama terlibat dalam pembinaan usia dini, Maman mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satu yang paling krusial adalah menjaga kestabilan performa pemain dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.
“Tantangannya cukup banyak, terutama soal mental dan konsistensi. Di usia mereka, performa bisa sangat fluktuatif—hari ini bagus, minggu depan bisa menurun,” jelasnya.
Ia menambahkan, para pemain muda harus mulai memahami bahwa jenjang berikutnya adalah tim senior. Oleh sebab itu, pengembangan diri tidak boleh berhenti hanya di sesi latihan resmi.
“Mereka harus punya kesadaran bahwa suatu saat akan masuk ke tim utama. Jadi pembelajaran tidak cukup hanya saat latihan, tapi juga di luar itu,” lanjutnya.
Maman juga menyoroti sisi kehidupan sosial pemain muda yang masih sangat aktif. Menurutnya, pelatih memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar mengajarkan teknik sepak bola.
“Mereka punya dunianya sendiri. Di situlah peran pelatih sebagai orang tua, yang terus mengingatkan soal tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi pemain profesional menuntut pengorbanan, termasuk mengatur waktu bersosialisasi.
“Bukan berarti dilarang, tapi harus tahu waktunya. Kalau ingin serius di sepak bola, pasti ada hal yang perlu dikurangi,” tambahnya.
Menanamkan Mental Tidak Mudah Puas
Maman juga menekankan pentingnya mental kerja keras sejak dini. Menurutnya, lolos seleksi bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari persaingan yang lebih berat.
“Ketika sudah lolos seleksi, jangan cepat puas. Justru di situ tantangannya dimulai. Pemain yang belum terpilih pasti punya motivasi lebih besar,” tegasnya.
Ia menilai persaingan internal menjadi faktor penting dalam perkembangan pemain. Masuk daftar tim belum tentu aman jika tidak disertai kerja keras berkelanjutan.
“Sudah masuk list, target berikutnya adalah masuk starting XI. Tidak ada waktu untuk santai, karena pemain di bawah juga terus bekerja keras,” pungkas Maman.












