LigaNusantara.com, Jakarta – Persaingan menuju gelar juara paruh musim BRI Super League 2025/2026 memasuki fase krusial. Pekan ini, empat laga penting akan menentukan siapa yang berhak menyandang status pemimpin klasemen sementara, karena seluruh pertandingan melibatkan tim penghuni empat besar.
Borneo FC, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Malut United masih berpeluang menyegel posisi teratas pada akhir putaran pertama. Setiap poin menjadi sangat berharga dalam perburuan gelar tidak resmi tersebut.
Borneo FC yang saat ini bertengger di puncak klasemen dijadwalkan bertamu ke markas Persita Tangerang di Stadion Indomilk Arena, Jumat (9/1/2026). Hasil imbang sudah cukup bagi Pesut Etam untuk mempertahankan posisi teratas sekaligus memastikan diri sebagai juara paruh musim.
Namun, tugas tersebut dipastikan tidak mudah. Persita tengah berada dalam performa menanjak dan berambisi menambah poin demi menjaga asa bersaing di papan atas.
Di pertandingan lain, Malut United akan menghadapi tantangan berat saat bertandang ke Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, melawan Persebaya, Sabtu (10/1/2026). Kehadiran pelatih anyar Bajul Ijo, Bernardo Tavares, menjadi ancaman serius bagi Laskar Kie Raha.
Sementara itu, duel paling menyita perhatian akan tersaji di Stadion GBLA Bandung, Minggu (11/1/2026), ketika Persib Bandung berhadapan dengan Persija Jakarta. Laga sarat gengsi ini bukan hanya soal poin, tetapi juga harga diri dua raksasa sepak bola nasional.
Pelatih Lokal di Tengah Dominasi Asing

Sorotan menarik dari persaingan empat besar ini tertuju pada sosok Hendri Susilo. Pelatih Malut United tersebut menjadi satu-satunya juru taktik lokal yang mampu bersaing langsung dengan pelatih-pelatih asing papan atas musim ini.
Tiga rivalnya di papan atas ditangani pelatih luar negeri, yakni Fabio Lefundes bersama Borneo FC, Bojan Hodak di Persib Bandung, serta Mauricio Sousa yang menukangi Persija Jakarta. Di tengah dominasi pelatih impor, Hendri tampil mencolok sebagai representasi pelatih lokal.
Malut United sendiri tampil solid berkat komposisi pemain lokal dan asing yang seimbang. Meski sukses membawa timnya bersaing di level elite, Hendri Susilo memilih bersikap rendah hati terhadap pencapaiannya sejauh ini.
“Saya merasa hanya diberi kesempatan dan kepercayaan oleh manajemen. Mereka juga menyediakan pemain-pemain berkualitas. Semua hasil ini adalah buah kerja keras manajemen dan pemain, bukan semata peran saya,” ujar Hendri.
Tetap Membumi dan Waspada

Mantan penyerang Timnas Indonesia era 1990-an itu menegaskan dirinya tidak ingin larut dalam pujian. Ia menyadari kualitas pelatih-pelatih lain di Super League sangat tinggi.
“Pelatih-pelatih di liga ini luar biasa. Saya hanya pelatih kampung yang kebetulan mendapat rezeki. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan bekerja bersama Malut United,” tuturnya.
Hendri juga menekankan bahwa perjuangan belum selesai. Dengan kompetisi yang baru memasuki separuh musim, ia menilai tantangan ke depan justru akan semakin berat.
“Syukur Alhamdulillah kami bisa sampai di titik ini. Tapi putaran kedua pasti penuh tantangan. Semua elemen tim harus tetap rendah hati dan terus bekerja keras agar target bersama bisa tercapai,” pungkasnya.












