Indonesia harus puas pulang tanpa poin saat menjamu Australia di Matchday ketujuh Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Bermain di Sydney Football Stadium, Australia, pada Kamis (20/03/25) sore WIB, Timnas Australia berhasil mempermalukan tamunya Indonesia dengan skor telak 5-1.
Timnas Australia berhasil menang atas Indonesia lewat gol dari Martin Boyle (18′ p), Nishan Velupillay (20′), Jackson Irvine (35′), Lewis Miller (61′), dan ditutup oleh Jackson Irvine (90′).
Sementara itu Timnas Indonesia hanya berhasil membalas satu gol lewat aksi dari Ole Romeny di menit ke-78.
Seusai pertandingan, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengkaitkan kekalahan Timnas Indonesia ini dengan gizi yang tak bagus.
Komentar ini ia berikan khusus terhadap kekalahan yang dialami Timnas Indonesia melawan Australia.
Dirinya menyebut jika Timnas Indonesia sulit untuk meraih kemenangan karena asupan gizi mereka tak bagus.
“Jangan heran kalau PSSI itu sulit menang karena main 90 menit berat Kenapa? Karena gizinya tidak bagus. Dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” ujar Dadan di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Sabtu (22/3).
“Sekarang PSSI sudah agak baik karena 17 pemainnya merupakan produk makan bergizi di negeri Belanda,” imbuhnya.
Dadan pun memuji Timnas Jepang yang telah menjalani program makan bergizi selama 100 tahun.
“Apalagi Jepang yang makan bergizi sudah 100 tahun, IQ rata-rata tertinggi dunia Jepang karena makan bergizinya sudah 100 tahun,” tuturnya.
Dadan menilai jika olahraga itu bukan semata-mata mengandalkan fisik, tetapi juga membutuhkan kecerdasan.
Apalagi dalam permainan sepak bola, kecerdasan sangat dibutuhkan, dimulai dari mengoper bola hingga secara cermat membaca permainan lawan.
“Dari mana super pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih akan tumbuh 324 juta, yaitu dari keluarga miskin dan rentan miskin yang anggota rumah tangganya kelas miskin itu 4,78. Jadi kalau ada 100 keluarga miskin, 78 keluarga anaknya 3, 22 keluarga anaknya 2,” tuturnya.
“Anak yang sekarang masih dalam kandungan, kemudian anak balita, anak TK, anak SD, SMP, SMA, 20 tahun kemudian ini akan menjadi tenaga kerja produktif. Kalau kita tidak intervensi kita khawatir tenaga kerja produktif ini akan berkualitas rendah,” pungkasnya.